Sukses

Strategi Otoritas Bursa Genjot Kebiasaan Investasi

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menggelar Kompetisi Yuk Nabung Saham 2018 pada Jumat (2/3/2018).

Direktur Utama BEI, Tito Sulistio menuturkan kompetisi ini akan mengubah kultur menabung menjadi investasi ke depannya.

"Kompetisi ini akan mengubah saving society menjadi investment society. Saat ini banyak dari investor zaman now. Uangnya boleh kecil, tapi perputarannya besar. Dan ini membuat investor domestik menjadi mendominasi," tutur dia di Gedung BEI.

Transaksi harian saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) didominasi investor domestik. Investor domestik tercatat transaksinya 67 persen mencapai Rp 6,2 triliun pada perdagangan saham Kamis 1 Maret 2018. Sedangkan investor asing tercatat Rp 3,1 triliun atau 33 persen. Sepanjang tahun berjalan 2018, transaksi harian saham oleh investor domestik mencapai Rp 376 triliun, sedangkan investor asing Rp 251,8 triliun.

Sebelumnya, kompetisi ini merupakan kelanjutan dari program yang telah dilaksanakan tahun lalu dan ditargetkan pada kesempatan kompetisi kali ini akan melibatkan 4.000 investor aktif dari 200 galeri investasi BEI.

Periode dari Kompetisi Yuk Nabung Saham 2018 ini adalah 9 bulan dengan tiga periode yang terbuka untuk umum dari Maret hingga November ini. Pertama yaitu (Maret-Mei), (Juni-Agustus) dan juga (September-November).

Pemenang Kompetisi Yuk Nabung Saham tahun lalu, Lita Syarifah (22) dengan Kantor Perwakilan Jakarta Indo Premier Sekuritas mengajak anak muda khususnya milenial untuk berani ikut serta bermain saham dan menjadi investor muda.

"Mari kita ramaikan kompetisi ini dan dengan ini kita bisa menjadi peserta terbanyak kompetisi 2018 nanti," ujar dia.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

1 dari 2 halaman

BEI Dorong Perusahaan Rintisan IPO

Sebelumnya, manajemen Bursa Efek Indonesia (BEI) mendorong perusahaan rintisan atau startup company untuk melepas saham ke publik atau initial public offering (IPO). Dengan maraknya IPO, perusahaan rintisan diharapkan dapat sumbang kapitalisasi pasar saham terbesar di BEI.

Direktur Utama BEI Tito Sulistio menuturkan, dulu komoditas minyak menjadi terbesar di dunia. Ini juga mendorong perusahaan-perusahaan bergerak di sektor minyak dan gas (migas) menjadi perusahaan besar. Akan tetapi, kini kondisinya berubah.

"Dulu oil yang selalu jadi komoditas terbesar di dunia. Tapi dua tahun terakhir adalah company (digitalisasi-red) that has the market world dan Indonesia punya banyak potensi di sini," ujar dia, saat ditemui dalam acara StartUps #GoPublik di Gedung BEI, Rabu 28 Februari 2018.

Tito mengatakan, Indonesia punya pasar besar di dunia startup atau perusahaan rintisan terutama teknologi. Akan tetapi, Tito melihat Indonesia punya kelemahan di perusahaan rintisan. Salah satunya jarang melakukan hak paten. Padahal Indonesia punya sumber daya manusia (SDM) potensial di perusahaan rintisan.

Oleh karena itu, Tito mengajak para pelaku usaha rintisan dapat melepas saham ke pubik sehingga dapat mendorong perusahaan menjadi besar. Bahkan diharapkan bisa sumbang kapitalisasi pasar terbesar di BEI.

"Indonesia paling jarang daftar hak paten, padahal potensi orang-orang pintarnya banyak. Saya berharap penyumbang terbesar nantinya market kapitalisasi adalah startup company," ujar dia.

"Jangan tunggu besar baru go public, tapi besarlah karena go public," tambah dia.

Artikel Selanjutnya
5 Investor Bidik Tanamkan Investasi ke Pulau Bangka Belitung
Artikel Selanjutnya
BEI Dorong Perusahaan Rintisan Lepas Saham ke Publik