Sukses

Anak Usaha Garuda Indonesia Cetak Pendapatan US$ 439 Juta

Liputan6.com, Jakarta - PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) membukukan pendapatan operasional senilai US$ 439,3 juta selama 2017. Pendapatan naik 13 persen dibandingkan pendapatan 2016 sebesar US$ 388,7 juta.

Akan tetapi, laba bersih tahun berjalan turun 11,76 persen menjadi US$ 50,94 juta pada 2017. Pada 2016, anak usaha Garuda Indonesia ini meraup laba bersih US$ 57,74 juta. Mengutip laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), perseroan membukukan kenaikan beban pegawai menjadi US$ 119,28 juta pada 2017 dari periode sama tahun sebelumnya US$ 82,01 juta. Beban operasional naik menjadi US$ 60,27 juta.

Sementara itu, beban material naik menjadi US$ 84,08 juta. Perseroan juga menurunkan kerugian selisih kurs dari US$ 4,28 juta menjadi US$ 529.123 pada 2017. Hal itu mendorong laba usaha turun 20,93 persen menjadi US$ 65,69 juta pada 2017. Perseroan mencatatkan kenaikan penghasilan bunga sebesar US$ 415.409.

Tak hanya itu, perseroan juga mencatatkan keuntungan lain-lain sebesar US$ 10,37 juta pada 2017 dari periode sama tahun sebelumnya US$ 157.836.

Direktur Utama GMF Iwan Joeniarto mengatakan, keuntungan GMF berasal dari Extra Ordinary Transaction yaitu Employee Benefit Obligation (EBO), sedangkan tanpa EBO, GMF memperoleh keuntungan sebesar US$ 44,2 juta.  Oleh karena itu, laba bersih GMF di 2017 meningkat 15,3 persen (yoy).

"Hal ini membuktikan bahwa GMF konsisten untuk terus berupaya meningkatkan kinerjanya secara kontinyu di mana pendapatan maupun laba bersih perusahaan selalu tumbuh setiap tahunnya,” ujar dia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (1/3/2018).‎

Iwan mengungkapkan, kinerja perseroan didukung oleh semua lini bisnis perusahaan yang telah berkontribusi dalam pencapaiannya. Adapun porsi pendapatan terbesar datang dari lini bisnis perawatan komponen pesawat sebesar 31 persen, diikuti Base Maintenance sebesar 22 persen, line maintenance 21 persen dan Engine Maintenance 19 persen.

"Di samping itu pertumbuhan kinerja Perusahaan juga didukung oleh program efisiensi yang terus berlanjut dan telah diterapkankan oleh Perusahaan dari tahun ke tahun,” lanjut dia.

Sementara itu, GMF Aero Asia ini juga mengalami kenaikan total aset yang signifikan di 2017, yaitu sebesar 22 persen dari US$ 442,6 juta pada 2016 menjadi US$ 539,2 juta pada 2017. Kenaikan aset tersebut dipengaruhi oleh aksi korporasi besar. Perusahaan melakukan pelepasan sahamnya kepada publik di 2017 dan berhasil menghimpun dana sebesar Rp 1,129 triliun.

Hal ini juga berpengaruh terhadap peningkatan signifikan ekuitas perusahan sebesar 77 persen. Sementara itu dari sisi arus kas 2017 juga meningkat sebesar 38 persen dibandingkan 2016.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

2 dari 2 halaman

Selanjutnya

‎Iwan menjelaskan, perkembangan skala bisnis GMF di sektor-sektor utama juga berhasil dilakukan ditandai dengan meningkatnya utilisasi hangar sebesar 33 persen dari lini bisnis base maintenance.

Kemudian, kenaikan utilisasi manpower sebesar 19 persen dan peningkatan jumlah pengerjaan sebesar 36 persen di lini bisnis engine maintenance, serta peningkatan utilisasi major machine sebesar 58 persen di lini bisnis yang menjadi penyumbang pendapatan terbesar, yaitu component maintenance. Menurut dia, meningkatnya utilisasi terhadap investasi perusahaan akan memberikan return yang lebih cepat pula.

"Hangar,component dan engine repair merupakan investasi yang bernilai tinggi, oleh karena itu utilisasinya harus maksimal. Saat ini GMF masih punya ruang yang luas untuk meningkatkan pendapatan terutama dari sektor component maintenance dan engine maintenance," jelas dia.

Kinerja operasional yang cemerlang di 2017, lanjut Iwan, juga ditandai dengan masuknya sejumlah kontrak baru perawatan pesawat dari berbagai maskapai baik domestik maupun asing, serta pembaruan kontrak dari pelanggan yang sudah ada. Pada tahun lalu, tercatat adanya peningkatan volume bisnis yang datang dari pelanggan internasional sebesar 83 persen.

“Kami berharap pasar internasional yang akan digarap oleh GMF meningkat hingga 30 persen pada tahun 2021,” kata dia.

Selain itu Iwan juga menyatakan, pertumbuhan pendapatan nonafiliasi mencapai 41 persen sehingga kontribusi pendapatan dari pelanggan non afiliasi naik menjadi 37 persen dari total pendapatan GMF, dan diharapkan terus meningkat hingga 55 persen pada 2021.

‎Sementara di 2018, GMF menargetkan pertumbuhan investasi yang sangat signifikan yaitu hampir 400 persen dari realisasi investasi di 2017. Target investasi diatas US$ 100 Juta akan digunakan untuk sejumlah program organic maupun inorganic yang utamanya berfokus pada ekspansi bisnis dengan menambah international footprint GMF, serta beberapa strategic initiatives dalam rangka peningkatan kapasitas dan kapabilitas perusahaan.

"Investasi yang signifikan ini diharapkan tidak hanya sekedar meningkatkan pendapatan GMF di tahun-tahun mendatang, namun juga akan meningkatkan pasar perawatan pesawat yang bisa digarap oleh GMF," ungkap dia.

Sedangkan dari sisi pendapatan, di 2018 GMF menargetkan mampu tumbuh diatas 15 persen dibandingkan capaian pendapatan tahun 2017. "Dengan target tersebut, perusahaan optimis pertumbuhan laba bersih di 2018 meningkat lebih dari 10 persen sehingga bisa kembali mencapai angka double-digit," tandas dia.

 

Artikel Selanjutnya
Unilever Indonesia Cetak Penjualan Rp 41 Triliun
Artikel Selanjutnya
Tumbuh 25 Persen, Laba Bersih Astra Jadi Rp 18,88 Triliun