Sukses

Fujifilm Holdings Akuisisi Xerox Senilai Rp 82 Triliun

Liputan6.com, Jakarta - Fujifilm mengakuisisi Xerox, perusahaan Amerika Serikat yang dibangun pada 1906 senilai US$ 6,1 miliar atau sekitar Rp 82,05 triliun (asumsi kurs Rp 13.451 per dolar Amerika Serikat).

Akuisisi ini untuk menggabungan perusahaan tersebut ke perusahaan patungan yang ada selama ini untuk memperbesar skala dan memangkas biaya di tengah menurunnya permintaan percetakan perkantoran.

Akuisisi tersebut diumumkan pada Rabu pekan ini. Mengutip laman Reuters, Jumat (2/2/2018), Xerox berada di bawah tekanan untuk menemukan sumber pertumbuhan baru di tengah berkurangnya permintaan untuk percetakan kantor.

Fujifilm juga mencoba merampingkan bisnis mesin fotokopinya dengan fokus yang lebih besar di layanan solusi dokumen.

Dengan konsolidasi unit research and development (R&D), pengadaan dan operasi lainnya akan memungkinkan Fuji Xerox berhemat minimal US$ 1,7 miliar pada 2022.

Saat ini Fujifilm memiliki 75 persen saham Fuji Xerox, perusahaan patungan antara kedua perseroan tersebut. Selama lebih dari 50 tahun perusahaan patungan itu menjual produk dan layanan fotokopi di kawasan Asia Pasifik.

Adapun Fuji Xerox akan kembali membeli saham Fujifilm sekitar US$ 6,1 miliar dengan memakai utang bank. Fujifilm akan menggunakan dana itu untuk membeli 50,1 persen saham Xerox baru. Kesepakatan transaksi selesai Juli-Agustus.

Perusahaan akan tetap memakai nama Fuji Xerox, dan menjadi anak usaha Fujifilm dengan kantor pusat di Amerika Serikat dan Jepang. "Ini adalah keputusan cepat, tetapi saya yakin kreatif. Struktur baru akan memanfaatkan kekuatan ketiga perusahaan kami," ujar CEO Fujifilm Komori.

 

 

1 dari 2 halaman

Bakal Pangkas 10 Ribu Tenaga Kerja

Sebagai bagian dari restrukturisasi sendiri, Fujifilm akan memangkas 10 ribu tenaga kerja di Fuji Xerox. Angka itu lebih dari seperlima angkatan kerja di perusahaan patungan itu di kawasan Asia Pasifik.

CEO Xerox Jeff Jacobson menuturkan, kalau perusahaan gabungan itu akan peroleh peningkatan teknologi baru. Ini seiring sinergi biaya dan pendapatan lebih tinggi.

"Transaksi ini menawarkan keuntungan besar bagi pemegang saham perusahaaan gabungan termasuk pemegang saham Xerox dan Fujifilm holdings saat ini. Ini akan membuat perusahaan lebih kompetitif dan meningkatkan peluang pertumbuhan jangka panjang dan meningkatkan margin," jelas dia.

Seperti diketahui, Fujifilm mencatatkan kinerja kurang baik. Perseroan membukukan laba operasional turun 29,4 persen untuk divisi operasional solusi dokumen. Secara keseluruhan, laba operasional hanya naik 3,4 persen. Sementara itu, Xerox bukukan rugi sekitar US$ 196 juta pada kuartal IV.

Artikel Selanjutnya
Utang Pemerintah RI Melonjak Jadi Rp 4.180 Triliun
Artikel Selanjutnya
Pengelola RS Hermina Bakal Catatkan Saham Perdana di BEI