Sukses

Ikuti Wall Street, Bursa Asia Menguat

Liputan6.com, Tokyo - Bursa saham Asia menguat pada perdagangan saham Kamis pekan ini. Penguatan bursa Asia itu memangkas kerugian sejak awal pekan ini. Akan tetapi, imbal hasil obligasi dan suku bunga Amerika Serikat (AS) dapat meredam optimisme investor terhadap prospek ekonomi global.

Bank sentral AS atau the Federal Reserve memutuskan mempertahankan suku bunga juga mempengaruhi laju bursa saham Asia. Dari hasil pertemuan bank sentral AS itu juga memberikan sinyal kalau kenaikan suku bunga secara bertahap tetap dilanjutkan pada 2018.

Indeks saham MSCI Asia Pasifik pun naik 0,1 persen pada awal perdagangan. Penguatan indeks saham acuan ini terjadi usai melemah 1,4 persen sejak Selasa. Indeks saham Jepang Nikkei pun menguat 0,5 persen.

"AS memangkas pajak dan membelanjakan US$ 1,5 triliun untuk infrastruktur ketika ekonomi kuat. Ini akan sedikit ragu jika ekonomi overheat," ujar Norihiro Fujito, Senior Invesment Strategist Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities, seperti dikutip dari laman Reuters, Kamis (1/2/2018).

Adapun imbal hasil surat utang atau obligasi AS bertenor 10 tahun naik menjadi 2,75 persen. Kenaikan imbal hasil itu usai bank sentral AS gelar pertemuan pada awal 2018. Diperkirakan kemungkinan suku bunga bank sentral AS naik menjadi empat kali.

Sentimen the Federal Reserve tersebut berdampak ke bursa saham AS atau wall street. Wall street hanya naik tipis dengan indeks saham Dow Jones menguat 0,28 persen.

Di pasar uang, euro ditransaksikan di kisaran US$ 1.2415. Dolar AS terhadap yen berada di kisaran 109,23. Di pasar komoditas, harga minyak menguat usai melemah pada awal pekan ini. Penguatan harga minyak ditopang permintaan bahan bakar. Harga minyak Amerika Serikat naik 0,3 persen menjadi US$ 64,94 per barel.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

1 dari 2 halaman

Wall Street Naik Terbatas Usai Pertemuan The Fed

Sebelumnya, Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street sedikit berubah. The Federal Reserve menyatakan inflasi akan meningkat pada 2018 menjadi katalis terhadap wall street. Dengan kenaikan inflasi memberikan sinyal kalau suku bunga acuan naik pada Maret.

Pada penutupan perdagangan saham Rabu (Kamis pagi WIB), indeks saham Dow Jones naik 72,57 poin atau 0,28 persen ke posisi 26.149,46. Indeks saham S&P 500 naik tipis 1,4 poin atau 0,05 persen ke posisi 2.823,83. Kemudian indeks saham Nasdaq bertambah 9 poin atau 0,12 persen ke posisi 7.411,48.

Hasil pertemuan bank sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed) menjadi katalis pergerakan wall street. The federal Reserve mempertahankan suku bunga usai pertemuan dalam dua hari ini. Meski suku bunga tetap pada awal 2018, suku bunga diperkirakan tetap naik secara bertahap pada 2018.

"Mereka (the Fed-red) lebih percaya diri dengan harapkan kenaikan inflasi," ujar Kevin Logan, Ekonom HSBC Securities, seperti dikutip dari laman Reuters, Kamis 1 Februari 2018.

The Federal Reserve menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali pada 2017. Diperkirakan suku bunga akan kembali naik sebanyak tiga kali pada 2018. Selain itu, bank sentral AS juga akan memangkas neraca sesuai jadwal.

"The Fed melihat pertumbuhan inflasi. Mereka tetap akan menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali, dan bahkan empat," kata Portfolio Manager, Resource Credit Income Fund, Mike Terwillger.

Adapun tanda ekonomi kuat lainnya dengan rilis laporan tenaga kerja ADP yang menunjukkan penambahkan tenaga keerja sektor swasta sebanyak 234 ribu pada Januari 2018. Angka ini lebih baik dari yang diharapkan analis skeitar 185 ribu.

Adapun wall street sempat menguat tinggi pada awal perdagangan. Ini didorong kenaikan saham Boeing yang prediksi laba bersih akan lebih baik, dan diharapkan dapat catatkan rekor untuk pemesanan pesawat komersial. Saham Boeing naik 4,6 persen. Selain itu, di antara 11 sektor saham S&P 500, saham teknologi membukukan kenaikan seiring investor cermati saham Facebook dan Microsoft.

Saham perawatan kesehatan masih tertekan sehingga bebani indeks saham acuan utama wall street. Hal itu karena perusahaan raksasa Amazon, Berkshire Hathaway, dan JP Morgan bergabung untuk memangkas biaya kesehatan pegawai di AS.

Sektor perawatan kesehatan S&P pun turun 1,6 persen. Sementara itu, analis juga mengharapkan pertumbuhan kinerja laba perusahaan masuk S&P 500 naik 13,7 persen. Sejauh ini, 37 persen perusahaan melaporkan kinerja, dan 80,5 persen mencatatkan kinerja di atas harapan.

Artikel Selanjutnya
Abaikan Pernyataan Presiden AS Soal Perang Dagang, Bursa Asia Menguat
Artikel Selanjutnya
Bursa Saham Asia Semringah Mengekor Wall Street