Sukses

IHSG Diprediksi Kembali Melemah

Liputan6.com, Jakarta Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan melemah pada perdagangan saham Kamis pekan ini. Analis PT Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi memperkirakan IHSG akan bergerak pada support 6.325 dan resistance 6.375.

Laju IHSG akan melanjutkan pelemahan seperti penutupan perdagangan saham sehari sebelumnya. Kemarin, IHSG ditutup melemah 0,03 persen ke 6.371,17.

"Sektor industri dasar dan properti menjadi penekan IHSG," kata dia di Jakarta, Kamis (11/1/2018).

Meski begitu, investor asing terus melanjutkan aksi beli bersih. Tercatat, beli bersih mencapai Rp 102,50 miliar.

"Investor asing memiliki tren positif hingga terakhir tetap tercatat net buy Rp 102,50 miliar dengan saham BMRI dan UNTR yang terlaris dikoleksi investor asing," jelasnya.

Sementara, bursa di Asia ditutup variatif. Pelaku pasar tengah memperhatikan harga minyak dunia.

"Harga minyak WTI memperpanjang kenaikan dari penutupan tertinggi dalam lebih dari tiga tahun," ujar dia.

Dia merekomendasikan saham PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

1 dari 2 halaman

IHSG Melemah Terbatas Kemarin

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah ke zona merah usai sempat menguat di awal sesi perdagangan. Akan tetapi, IHSG hanya melemah tipis.

Pada penutupan perdagangan saham, Rabu 10 Januari 2018, IHSG turun tipis 1,97 poin atau 0,03 persen ke posisi 6.371,17. Indeks saham LQ45 tergelincir 0,15 persen. Sebagian besar indeks saham acuan tertekan.

Ada sebanyak 187 saham melemah sehingga mendorong IHSG ke zona merah. 170 saham menguat sehingga menahan pelemahan IHSG. 112 saham diam di tempat.

Pada Rabu pekan ini, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.412,02 dan terendah 6.355,21. Total frekuensi perdagangan saham sekitar 343.975 kali dengan volume perdagangan 9,8 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 7,7 triliun. Investor asing melakukan aksi beli Rp 135,35 miliar di seluruh pasar. Posisi dolar Amerika Serikat berada di kisaran Rp 13.423.

Secara sektoral, sebagian besar sektor saham tertekan kecuali sektor saham aneka industri naik 1,01 persen, sektor saham perdagangan mendaki 0,48 persen dan sektor tambang menanjak 0,27 persen.

Sektor saham industri dasar susut 0,76 persen, dan catatkan penurunan terbesar. Disusul sektor saham konstruksi melemah 0,31 persen dan sektor saham infrastruktur melemah 0,14 persen.

Saham-saham yang catatkan penguatan terbesar antara lain saham PTRO naik 10,94 persen ke posisi Rp 2.130 per saham, saham MEDC menguat 9,09 persen ke posisi Rp 1.080 per saham, dan saham DOID menanjak 7,74 persen ke posisi Rp 905.

Sedangkan saham-saham yang tertekan antara lain saham JMAS melemah 7,91 persen ke posisi Rp 815, saham APLN tergelincir 4,31 persen ke posisi Rp 222, dan saham PNBS susut 3,95 persen ke posisi Rp 73.

Bursa saham Asia pun bervariasi. Indeks saham Hong Kong Hang Seng naik 0,20 persen, indeks saham Shanghai melonjak 0,23 persen. Sedangkan indeks saham Korea Selatan Kospi tergelincir 0,42 persen, indeks saham Jepang Nikkei melemah 0,26 persen, indeks saham Singapura turun 0,23 persen dan indeks saham Taiwan menanjak 0,77 persen.

Artikel Selanjutnya
Rupiah Sempat Tembus 13.800 per Dolar AS, IHSG Turun Terbatas
Artikel Selanjutnya
IHSG Naik Terbatas di Awal Sesi Perdagangan