Sukses

Gerak IHSG Akan Cenderung Tertekan

Liputan6.com, Jakarta Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan cenderung tertekan pada perdagangan saham Kamis (4/1/2018). Analis PT Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi mengatakan, IHSG akan bergerak pada support 6.200 dan resistance 6.307.

IHSG melemah cukup dalam sebelumnya. IHSG ditutup pada level 6.251,48 atau susut 1,38 persen pada perdagangan saham Rabu lalu.

Menurut Lanjar, koreksi itu wajar, mengingat IHSG sudah melesat cukup jauh pada akhir tahun. "Wajar pasca penguatan signfikan di akhir tahun," kata dia di Jakarta, Kamis (4/1/2018).

Dua sektor mengalami pelemahan cukup dalam yakni sektor konsumer dan infrastruktur. Indeks konsumer turun 2,51 persen dan infrastruktur 1,89 persen.

Namun demikian, investor asing masih optimistis yang terlihat dari aktivitas beli bersih. "Namun investor asing tercatat net buy Rp 71,81 miliar," kata dia.

IHSG berlawanan dengan tren Bursa Asia yang menguat. Indeks Hangseng naik 0,15 persen, Shanghai 0,59 persen, Kospi 0,27 persen.

Lanjar merekomendasikan saham PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT), PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), PT Timah Tbk (TINS), PT Ace Hardware Tbk (ACES).

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

1 dari 2 halaman

IHSG Ditutup Melemah 87,75 Poin

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah sepanjang perdagangan saham Rabu pekan ini. Analis menilai, tekanan yang terjadi lantaran ada lelang Surat Utang Negara (SUN).

Pada penutupan perdagangan saham, Rabu (3/1/2018), IHSG melemah 87,75 poin atau 1,38 persen ke posisi 6.251,47. Indeks saham LQ45 susut,83 persen ke posisi 1.056,52. Seluruh indeks saham acuan kompak tertekan.

Ada sebanyak 210 saham turun sehingga menekan IHSG. Sedangkan 142 saham menguat. 119 saham lainnya diam di tempat.

IHSG sempat berada di level tertinggi 6.342 dan terendah 6.220. Total frekuensi perdagangan saham sekitar 335.824 kali dengan volume perdagangan saham 9,6 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 6,8 triliun. Investor asing melakukan aksi beli Rp 71,80 miliar di seluruh pasar. Posisi dolar Amerika Serikat berada di posisi Rp 13.462.

Secara sektoral, seluruh sektor saham tertekan. Sektor saham barang konsumsi melemah alami penurunan paling tajam. Sektor barang konsumsi susut 2,51 persen. Disusul sektor saham manufaktur tergelincir 2,11 persen dan sektor saham infrastruktur melemah 1,9 persen.

Saham-saham yang menguat antara lain saham PSSI naik 34,46 persen ke posisi Rp 199, saham SMDR melonjak 16,92 persen ke posisi Rp 456, dan saham MBSS mendaki 10,57 persen ke posisi Rp 680 per saham.

Sedangkan saham-saham yang tertekan antara lain saham TARA melemah 5,63 persen ke posisi Rp 755, saham BRPT merosot 4,89 persen ke posisi Rp 2.140 per saham, dan saham IIKP tergelincir 4,58 persen ke posisi Rp 292 per saham.

Bursa saham Asia pun sebagian besar menguat. Indeks saham Hong Kong Hang Seng naik 0,15 persen, indeks saham Shanghai melonjak 0,62 persen, dan indeks saham Singapura menanjak 0,99 persen, dan indeks saham Taiwan menanjak 0,85 persen.

Analis PT Binaarta Sekuritas Reza Priyambada menuturkan, IHSG melemah lantaran pemerintah targetkan menjual SUN Rp 17 triliun pada Rabu pekan ini. "Target pemerintah itu salah satu yang sebabkan pasar ekuitas tertekan. Karena ada money moving ke pasar SUN seiring dengan adanya lelang SUN hari ini," ujar Reza.

Reza menambahkan, tekanan IHSG masih wajar. Apalagi IHSG sudah naik sejak akhir tahun lalu.

 

 

Artikel Selanjutnya
Rupiah Sempat Tembus 13.800 per Dolar AS, IHSG Turun Terbatas
Artikel Selanjutnya
IHSG Diprediksi Perkasa, Simak Pilihan Saham Berikut Ini