Sukses

Wall Street Menguat di Akhir Pekan

Liputan6.com, New York - Wall Street menguat pada penutupan perdagangan di akhir pekan ini, seiring laporan gaji pekerja AS tercatat lebih rendah dari perkiraan dan ekspektasi Bank Sentral akan memutuskan kenaikan suku bunga pada September ini.

Melansir laman Reuters, indeks Dow Jones industrial average naik 72,66 poin atau 0,39 persen menjadi 18.491,96,. Kemudian indeks S&P 500 naik 9,12 poin atau 0,42 persen ke posisi 2.179,98 dan indeks Nasdaq Composite bertambah 22,69 poin atau 0,43 persen menjadi 5.249,90.

Untuk minggu ini, indeks Dow dan S & P 500 naik 0,5 persen sementara S & P naik 0,6 persen.

Pasar saham AS menguat usai Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan jika nonfarm payrolls naik 151 ribu pada Agustus usai terjadi revisi kenaikan pada Juli yang sebesar 275 ribu. Dengan PHK terjadi di bidang manufaktur dan konstruksi. Sementara ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan payrolls naik 180 ribu pada bulan lalu.

Kemudian pedagang memangkas probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada bulan ini menjadi 21 persen dari 24 persen pada Kamis, sesuai dengan program FedWatch CME Group. Namun, peluang kenaikan tarif pada Desember naik tipis menjadi 54,2 persen dari 53,6 persen di hari sebelumnya.

"Orang-orang sedikit lega bahwa itu tidak mencapai 200 ribu, utamanya di pasar ekuitas. Pasar ekuitas akan memberikan Fed setidaknya satu tingkat kenaikan tetapi jika mereka mulai merasakan serangkaian kenaikan lebih cepat nantinya, itu akan membuat sedikit kegugupan di sini," ujar Sean Lynch, Kepala Strategi Ekuitas Global Wells Fargo Investment Institute di Omaha.

Meskipun laporan gaji tercatat lebih rendah, namun Presiden Federal Reserve Richmond Jeffrey Lacker mengatakan, ekonomi AS tampaknya cukup kuat untuk menjamin kenaikan tingkat suku bunga. Lacker berpendapat bahwa berbagai analisis ekonomi menunjukkan bunga acuan overnight Fed terlalu rendah.

Sementara beberapa pejabat Fed telah membuat komentar hawkish tentang kenaikan suku bunga dalam beberapa pekan terakhir, membuat investor berpikir kemungkinan kenaikan akan diputuskan pada pertemuan bank sentral yang dijadwalkan berlangsung pada 20-21 September.

Di sisi lain, indeks Dolar Indeks yang mengukur greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, bangkit kembali setelah menyentuh angka terendah dalam satu minggu yang menguat 0,22 persen.

Adapun saham yang harus kehilangan kemilaunya di akhir pekan ini adalah Lululemon Athletica yang turun 10,6 persen. Kemudian saham Broadcom turun 2,2 persen menjadi US$ 173,11. Saham itu menjadi hambatan terbesar pada indeks S&P dan Nasdaq.(Nrm/Ndw)