Sukses

Penurunan Harga Minyak Tak Bikin Perusahaan Energi Rusia Runtuh

Liputan6.com, New York - Harga minyak yang terus menerus tertekan dalam enam bulan terakhir hingga di bawah US$ 50 per barel cukup membuat negara Rusia ketar-ketir karena pendapatan negara dari aktivitas jual beli minyak mentah terus anjlok. Namun berbeda dengan perusahaan-perusahaan energi di negara tersebut, mereka justru tak begitu khawatir dengan keadaan tersebut.

Mengutip CNBC, Minggu (15/2/2015), para ahli energi mengungkapkan ada dua alasan yang membuat perusahaan-perusahaan energi di Rusia kinerjanya tak begitu tertekan sehingga mereka tak merasa takut dengan penurunan harga minyak.

Pertama, pemerintah Rusia menurunkan pajak untuk para produsen minyak mentah karena jatuhnya harga minyak. Hal tersebut membuat biaya produksi dari perusahaan minyak Rusia bisa lebih ditekan karena tak perlu membayar pajak yang tinggi.

Kedua, sebagian besar transaksi perusahaan-perusahaan minyak tersebut menggunakan mata uang rubel sehingga meskipun mata uang tersebut jatuh tetapi dampaknya tak begitu terasa bagi mereka.

Analis Energi Goldman Sachs, Geydar Mamedov menjelaskan, kedua faktor tersebut dapat mengimbangi dampak negatif dari penurunan harga minyak yang terjadi sejak pertengahan tahun lalu.

Mamedov mengungkapkan, pengeluaran perusahaan-perusahaan minyak Rusia sebagian besar menggunakan mata uang rubel. Sedangkan pendapatan mereka adalah dolar Amerika Serikat (AS). Efeknya, meskipun mata uang Rusia terus tertekan terhadap dolar namun sebagian besar perusahaan energi tersebut masih bisa memperoleh pendapatan yang cukup besar.

"Mata uang rubel telah terjatuh dalam 12 bulan terakhir, tetapi hal tersebut justru menjadi lindung nilai alami terhadap penurunan harga minyak mentah," tambah analis minyak dan gas Renaissance Capital, Ildar Davletshin.

Mamedov melanjutkan, dari hasil perhitungannya, arus kas perusahaan energi di Rusia pada saat harga minyak di level US$ 110 per barel dan nilai tukar rubel sebesar US$ 33 rubel per dolar hampir sama dengan saat harga minyak mendekati US$ 60 per barel dengan nilai tukar rubel di level 60 rubel per dolar AS.

Selain itu, ketika banyak perusahaan-perusahaan minyak dan gas di luar Rusia memotong produksi karena ada penurunan harga minyak, perusahaan di Rusia justru tetap kepada produksi yang sama.

Bahkan Goldman memperkirakan bahwa produksi minyak Rusia akan meningkat menjadi 532 juta ton pada 2015 ini dibanding 527 juta ton pada 2014 kemarin.

Namun, Mamedov memperingatkan, meskipun dalam jangka pendek perusahaan-perusahaan tersebut masih bisa bertahan, tetapi kemungkinan besar dalam jangka panjang akan berbeda. Kemungkinan besar jika harga minyak terus berada di level bawah, kinerja perusahaan tersebut akan ikut tertekan juga. (Gdn)