Sukses

Hindari Rugi, Masyarakat Harus Belajar Dulu Sebelum Investasi

Liputan6.com, Jakarta - Saat ini produk investasi keuangan yang ditawarkan oleh perusahaan investasi kepada calon investor sangat beragam. Mulai dari yang menawarkan keuntungan tinggi namun juga dengan resiko yang tinggi atau sebaliknya.

Education Manager Adikamaks Edukasi Finansial Rizki Kurniawan mengatakan, dengan banyak pilihan investasi ini sebenarnya semakin mempermudah investor untuk berinvestasi, namun tetap disertai sikap kehati-hatian.

Dia menjelaskan, jika dilihat secara konservatif, calon investor yang belum pernah berinvestasi sebelumnya dapat mencoba deposito sebagai pilihan pertama karena tinggat resiko hampir tidak ada.

"Kalau deposito, resikonya tidak ada tetapi return-nya dengan inflasi pas-pasan," ujarnya di Indonesia Financial Expo & Forum (IFEF) 2014, Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Jumat (26/9/2014).

Namun jika ingin mencoba investasi dengan resiko namun juga dengan keuntungan lebih tinggi, maka calon invesator dapat mencoba investasi saham atau reksa dana.

"Kalau mau yang agresif dan berani ambil resiko lebih bisa ke online trading atau forex. Mereka bisa mengatur money management sendiri, mau beli berapa besar untuk meraih target lebih besar dengan resiko yang besar. Jadi high risk, high reward. Kalau reksa dana, bagi yang tidak mau terlalu fokus pada market, tapi tetap mereka punya profil resiko masing-masing," jelasnya.

Menurut Rizki, dengan kondisi ekonomi Indonesia saat ini, mencoba investasi saham diperkirakan juga tidak masalah karena pergerakan indeks yang relatif baik. "Kan terakhir drop pada Mei 2013, sehabis itu saham naik," lanjutnya.

Namun yang perlu diperhatikan saat ingin berinvestasi melalui saham yaitu harus belajar bagaimana mengelola resiko supaya modal yang dimiliki tidak habis.

"Kan masalahnya saham-saham yang bergerak naik sudah beda dari sebelumnya sehingga pemilihan saham dan timingnya itu perlu diperhatikan, jadi ujung-ujungnya edukasi juga penting untuk mempredikasi saham apa yang akan naik dan saham mana yang berhenti naik karena sudah mencapai target, itu yang perlu diperhatikan," katanya.

Rizki menilai, kondisi masyarakat Indonesia yang menyadari pentingnya berinvestasi juga telah menunjukan tren positif. Hal ini lantaran masyarakat semakin menyadari pentingnya investasi untuk kebutuhan masa depan dan dana pensiun.

"Tetapi masalahnya setelah terjun berinvestasi, masih banyak pengetahuan soal investasi yang belum diterima. Juga masih ada stigma negatif soal investasi ini. Tetapi dengan sosialisasi yang baik dari OJK dan BI, semakin mendukung investasi yang bagus," ungkapnya.

Oleh sebab itu, Rizki menyarankan agar para calon investor untuk lebih bertanggung dengan investasinya nanti dengan memperdalam pengetahuan akan investasi dan resiko yang dimiliki. Tidak hanya tergiur oleh keuntungan yang besar.

"Pemerintah sudah menjalankan program dengan baik tetapi para investor ini yang harus lebih bertanggung jawab pada investasinya. Artinya mereka yang butuh investasi sehingga perlu mempelajari investasinya, jangan hanya melihat pada iming-imingnya saja," tandas dia. (Dny/Ndw)

Loading