Sukses

Defisit Neraca Perdagangan Jelang Puasa Hanya Sementara

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Chatib Basri menyatakan, defisit neraca perdagangan April 2014 yang sebesar US$ 1,96 miliar hanya bersifat sementara. Menurutnya, defisit tersebut lebih dipicu akibat kenaikan impor menjelang puasa sehingga akan kembali normal setelah Lebaran.

"Angka defisit itu memang cukup besar, terutama karena defisit migas, dan sisanya dari non migas. Tapi kami melihat ini sifatnya temporer karena lebih di drive untuk hal-hal menjelang puasa," kata dia saat ditemui di kantornya, Jakarta, Senin (2/6/2014) malam.

Chatib mengaku, permintaan impor yang tinggi datang dari peralatan mesin, dan sebagainya di samping adanya kenaikan harga barang. Sehingga pemerintah harus melakukan beberapa upaya untuk menjaga stabilitas harga.

Namun demikian, dia berharap, kondisi ini tak akan memperburuk defisit transaksi berjalan di kuartal kedua nanti mengingat prediksi impor akan lebih rendah dan diiringi dengan angka ekspor yang cenderung lebih baik.

"Mudah-mudahan tidak tinggi. Tapi saya harap ekspor bisa lebih besar dan impor akan rendah di bulan depan meski tekanan di kuartal kedua memang agak meningkat," paparnya.

Terkait dengan impor ponsel yang tumbuh 58% sebagai biang keladi defisit neraca perdagangan di April ini, Chatib enggan berkomentar banyak. "Saya belum terima suratnya," ucapnya.

Terpisah, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Sasmito Hadi Wibowo mengaku defisit terjadi karena ada dorongan tingginya konsumsi domestik menjelang puasa dan lebaran.

"Kebutuhan sapi hidup, daging sapi, susu mentega, gula, kembang gula dari Australia naik tajam untuk mengantisipasi puasa dan lebaran. Impor pakan ternak juga naik 100% sebagai antisipasi kebutuhan pakan ternak." terang dia.

Selain itu, tambah Sasmito, tekanan neraca perdagangan berasal dari lonjakan impor ponsel sebelum dikenakan pajak barang mewah. "Impor ponsel tinggi. Banyak yang manfaatkan atau aji mumpung sebelum pengenaan pajak barang mewah," ujar dia.

Sasmito berharap, kinerja neraca perdagangan akan membaik di Agustus 2014. "Kalau tidak ada apa-apa, Agustus bisa bagus, itupun kalau bisa genjot ekspor. Tapi pasar luar negeri saja lagi ngos-ngosan," tandasnya. (Fik/Gdn)