Sukses

Studi: Uang Bisa Membeli Kebahagiaan Tergantung Apa yang Dibeli

Liputan6.com, San Francisco - Banyak orang yang mempertanyakan kebenaran ungkapan yang terkenal kontroversial, `uang bisa membeli kebahagian`. San Francisco State University akhirnya menggelar sebuah penelitian khusus untuk membuktikan apakah uang dapat membeli kebahagiaan atau tidak.

Seperti dikutip dari The Blaze, Kamis (8/5/2014), San Francisco State University menemukan,  bersikap sedikit boros dan membeli apapun yang diinginkan dapat membuat perasaan Anda lebih bahagia. Akan tetapi tidak semua barang yang Anda beli dapat mengundang perasaan bahagia.

"Beberapa penelitian sebelumnya mengatakan, Anda dapat lebih bahagia jika uang Anda digunakan untuk memperoleh pengalaman seperti berlibur, tapi kami menemukan fakta yang berbeda. Tidak semua orang yang menggunakan uangnya untuk berlibur dapat merasa lebih bahagia," ungkap Profesor Psikologi San Francisco State University Ryan Howell.

Hasil penelitiannya menunjukkan, para pembeli barang-barang mahal termasuk bepergian ke luar negeri juga seringkali merasa jenuh. Sepertiga partisipannya mengaku tidak benar-benar bahagia dengan apa yang dibelinya.

Salah seorang partisipan yang mengaku sebagai penggemar baseball juga mengatakan tidak akan bahagia jika harus menghabiskan uangnya untuk membeli tiket menonton pertandingan dengan harga tinggi. Itu membuktikan, menggunakan uang untuk membeli pengalaman tidak benar-benar membuat orang merasa bahagia.

"Jika saya membeli tiket itu hanya untuk sekadar pengalaman, saya juga pasti tidak akan mau. Itu tak akan membuat saya merasa lebih bahagia," ujar Howell.

Para peneliti akhirnya menyimpulkan berbagai faktor saat mengamati para konsumen dalam membelanjakan uangnya. Hasilnya, seseorang akan bahagia jika dia mengeluarkan uang untuk mendapatkan apa yang benar-benar diinginkannya, terlepas dari itu untuk pengalaman, makanan, atau barang mewah.

"Hasilnya tidak sama untuk setiap orang. Semua tergantung nilai ukur yang dipatok pembelinya," ungkap pimpinan peneliti tersebut Jia Wei Zhang. (Sis/Ahm)

Loading