Sukses

Diboikot Massa, Kekayaan Keluarga Shinawatra Terpangkas Rp 23 Triliun

Liputan6.com, Jakarta Kelompok demonstran anti-pemerintah di Thailand semakin keras menyerukan Perdana Menteri Yingluck Shinawatra untuk turun dari jabatannya.


Tak hanya mengacaukan jalannya pemilu beberapa waktu lalu, kali ini para demonstran memboikot saham-saham perusahaan yang berkaitan dengan Shinawatra dan pihak keluarga.

Seperti dikutip dari Wall Street Journal, Rabu (26/2/2013), para demonstran memboikot sejumlah perusahaan yang sebagian sahamnya dimiliki Shinawatra dan keluarga. Akibatnya, indeks bursa saham Thailand telah melemah 1,7% dalam sepekan dan membuat para investor ketakutan.

Selain itu, dalam waktu kurang dari sepekan, Shinawatra dan keluarganya telah kehilangan nilai pasar saham perusahaan sebanyak lebih dari US$ 2 miliar atau setara Rp 23,3 triliun (kurs: Rp 11.668 per dolar AS).

Seruan para pemimpin massa untuk melakukan boikot ditujukan guna menekan administrasi sejumlah perusahaan milik sang perdana menteri. Aksi tersebut berhasil dan membuat sejumlah harga saham merosot drastis.

Penyedia jasa telekomunikasi terbesar di Thailand, Advanced Info Service (AIS) yang telah berhubungan erat dengan Shinawatra sejak 2006 juga mengalami tekanan di pasar modal. Nilai sahamnya anjlok hingga 5,5% sejak aksi boikot memanas pekan lalu.

Pihak manajemen berusaha menyakinkan para pelaku pasar, perusahaan yang didirikan kakak Shinawatra sudah tidak lagi berhubungan dengan keluarga perdana menteri tersebut.

Saham-saham di perusahaan properti SC Asset PCL yang kepemilikannya didominasi keluarga Shinawatra juga tercatat anjlok. Sejak para demonstran menyerukan aksi boikot pekan lalu, nilai saham SC Asset PLC telah ambruk hingga lebih dari 9% di bursa saham Thailand. Perdana menteri cantik itu pernah menjabat sebagai CEO di perusahaan tersebut.

Selain itu, saham-saham perusahaan distributor handset yang dijalankan keluarganya, M-Link Asia Corp juga tercatat merosot sebesar 11%. Akibatnya,  indeks acuan bursa saham Thailand melemah 1,7% dalam kurun waktu yang sama.

Para investor akhirnya mulai melarikan diri dari Thailand karena kondisi politik yang semakin ricuh di sana. Tak hanya itu, saat ini sejumlah perusahaan di Thailand tengah ketar-ketir menghadapi aksi protes dari masyarakat.

Beberapa perusahaan yang pernah atau masih memiliki keterkaitan dengan keluarga  Shinawatra berusaha meyakinkan para pelaku pasar, bisnisnya masih baik-baik saja.

"Yang pasti akan ada sentimen negatif pada pergerakan saham dalam jangka pendek. Tetapi dalam jangka panjang, posisi perusahaan masih akan tetap baik-baik saja," ungkap CIO Aberdeen, Adithep Vanabriksha.

Untuk diketahui, Yingluck bersumpah untuk tidak mundur dari jabatannya meskipun protes keras pihak oposisi terus memintanya untuk turun. Bahkan sejumlah demonstrasi keras yang digelar sejak November telah menelan 21 korban jika.

Saat ini, dia masih memimpin pemerintah Thailand, menunggu hasil pemilihan umum pada 2 Februari. Dia berharap dapat terpilih kembali dan menjalankan tugasnya sebagai perdana menteri Thailand. Saat itu, proses pemilu juga sempat menerima aksi boikot dari kelompok demonstran anti-pemerintah. (Sis/Ahm)