Prestasi olahraga Indonesia di kancah internasional masih jalan di tempat. Mirisnya, cabang olahraga (cabor) pendulang emas hanya 1-2 di antara banyaknya cabor yang ada. Padahal, Indonesia yang menjadi negara dengan penduduk terbanyak punya sumber daya manusia melimpah dalam pencarian bakat. Apa sebenarnya permasalah utama olahraga nasional kita?

TOREHKAN JEJAK JUARA, MASIH MIMPI

Ajang 4 Tahun sekali
Debut : Tahun 1952 di HELSINKI - Finlandia
Peringkat Indonesia masih di lingkaran 40 BESAR dalam 20 th terakhir
Total Medali : 7 Emas
20 Perak
11 Perunggu
Ajang 4 Tahun sekali
Debut : Tahun 1951 di NEW DELHI - India
Pertama Kali Menjadi Tuan Rumah 1962
Total Medali : 34 Emas
46 Perak
82 Perunggu

KEJAYAAN YANG HILANG

Ajang 4 Tahun sekali
Debut : Tahun 1977 di KUALA LUMPUR - Malaysia
Pertama Kali Menjadi Tuan Rumah 1977
Prestasi : * 10 kali Juara Umum
* 1.535 total medali emas; terbanyak kedua setelah Thailand
* 4 kali jadi tuan rumah

Minimnya Cabang

Pendulang Emas

Nampaknya, bulu tangkis menjadi satu-satunya cabang pendulang emas Indonesia di setiap ajang internasional. Lebih dari setengah abad Indonesia mengikuti Olimpiade, hanya cabang bulu tangkis yang hasilkan emas. Keadaan di ajang Asian Games tidak jauh berbeda, dari 43 emas yang dimiliki, setengahnya berasal dari bulu tangkis.

CABOR PENGHASIL EMAS

Ini Biang Keladinya ?

INFRASTRUKTUR OLAHRAGA DIKORUPSI

Beberapa kasus korupsi terkait proyek pembangunan fasilitas untuk para atlet terjadi sejak 2010. Contohnya korupsi proyek Hambalang dengan total kerugian negara mencapai Rp 706 miliar.

KONFLIK INTERNAL PEROLAHRAGAAN

* Kemenpora VS PSSI
Perseteruan alot Kemepora vs PSSI yang berlangsung dari 2015-2016 dan berujung pada sanksi FIFA sempat membuat Liga Indonesia mati suri.
* Dualisme kepemimpinan di beberapa cabor.

PENGEMBANGAN ATLET MINIM PERHATIAN

* Belum diterapkannya Sport Science Sport science adalah disiplin ilmu yang mempelajari penerapan dari prinsip-prinsip science dan teknik-teknik yang bertujuan untuk meningkatkan prestasi olahraga. Jerman, Cina, Korsel dan Australia sudah intensif menerapkannya
* Cabor Unggulan Tidak Diprioritaskan
* Sekolah Olahraga Tidak Berkembang